Di tengah gelombang ketidakpastian ekonomi global dan krisis etika bisnis yang kerap melanda korporasi besar, dunia kini menoleh pada model bisnis yang lebih berkelanjutan. Bukan sekadar mengejar profit, tetapi juga people (manusia) dan planet (lingkungan). Di titik inilah, Manajemen Bisnis Islam (MENBIS) Sharia Economics Universitas Internasional Semen Indonesia (SEUISI) menemukan relevansi terkuatnya.
Sebagai kampus yang lahir dari rahim BUMN raksasa, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG), UISI memiliki DNA korporasi yang kental. Namun, keberadaan Manajemen Bisnis Islam di dalamnya menawarkan sebuah anomali yang indah: Bagaimana nilai-nilai transendental (Syariah) diintegrasikan ke dalam praktik bisnis modern yang keras dan kompetitif.
Bukan Sekadar “Label Halal”
Stigma lama menganggap bahwa jurusan berbau “Islam” hanya berkutat pada fiqih atau teori agama di menara gading. MENBIS SEUISI mematahkan persepsi tersebut. Di sini, mahasiswa tidak hanya diajarkan mana yang halal dan haram secara tekstual, tetapi bagaimana menerapkannya dalam rantai pasok (supply chain) yang kompleks, manajemen keuangan korporat, hingga strategi pemasaran digital yang etis.
Keunggulan komparatif MENBIS SEUISI terletak pada ekosistemnya. Berlokasi di Gresik—kota yang unik karena menyandang dua gelar sekaligus: Kota Santri dan Kota Industri—mahasiswa mendapatkan laboratorium hidup yang tidak dimiliki kampus lain. Mereka belajar konsep Maqashid Syariah di kelas, lalu melihat bagaimana praktik Corporate Social Responsibility (CSR) dan tata kelola perusahaan dijalankan di lingkungan Semen Indonesia Group.
Mencetak “Professional Mahasiswa”
Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia memiliki potensi ekonomi syariah yang raksasa. Namun, kita sering kekurangan SDM yang “amphibi”—mampu hidup di dua alam. Banyak yang paham agama tapi gagap bisnis, atau jago bisnis tapi buta etika syariah.
Kurikulum MENBIS SEUISI didesain untuk mengisi kekosongan ini. Dengan pendekatan Practice-Based Education, lulusannya disiapkan menjadi teknokrat dan manajer yang profesional namun memiliki kompas moral yang kuat. Ini adalah profil lulusan yang sangat dicari saat ini, terutama ketika industri halal global (makanan, fashion, pariwisata, hingga keuangan) sedang booming.
“Bisnis berkelanjutan bukan konsep baru—ia telah lama hidup dalam prinsip-prinsip syariah.”
Ahmad Dahlan Malik, B.A.(Hons)., M.Ec., CFP®., CRA., QWP-STM., AWP-STM.,CWC
Relevansi di Era Disrupsi
Dalam manajemen modern, kita mengenal istilah Sustainability (Keberlanjutan). Menariknya, prinsip bisnis Islam sejatinya adalah bentuk paling murni dari keberlanjutan itu sendiri—tidak mendzalimi, transparan (tabayyun), dan adil.
MENBIS SEUISI mengajarkan bahwa menerapkan bisnis Islam bukan berarti mundur ke belakang, melainkan justru menjadi yang terdepan dalam menjaga integritas. Ketika dunia korporasi sedang sibuk berbenah soal Good Corporate Governance (GCG), nilai-nilai tersebut sudah inheren dalam kurikulum bisnis Islam.
Kesimpulan
Manajemen Bisnis Islam di UISI bukan sekadar prodi pelengkap. Ia adalah jembatan strategis. Jembatan yang menghubungkan idealisme spiritual dengan pragmatisme industrial. Bagi calon mahasiswa atau pengamat pendidikan, MBI UISI menawarkan proposisi nilai yang jelas: Tempat di mana Anda bisa belajar menjadi CEO kelas dunia, tanpa kehilangan pijakan nilai-nilai ukhrawi.
Ini adalah tempat di mana “Bisnis Langit” dibumikan di kawah candradimuka korporasi.
Gresik, 30 Desember 2025
Ahmad Dahlan Malik, B.A.(Hons)., M.Ec., CFP®., CRA., QWP-STM., AWP-STM.,CWC